Sudah hampir dua puluh lima tahun hidup terus berjalan sebagaimana caranya. Waktu yang ku lewati terasa begitu padat dan cepat, terkadang terasa tidak bermakna, terkadang terasa sia-sia. Semuanya berjalan dengan semesta sebagai pendukungnya.
Dalam dua puluh lima tahun tersebut, selama tiga tahun terakhir, aku mulai menyadari bahwa memahami diri sendiri itu penting. Sebagai penyintas depresi, aku sadar bahwa keberadaanku sangat bermakna, entah bagi diriku atau bagi orang lain di luar sana yang mungkin tidak kusadari.
Selama hampir dua puluh lima tahun ini, aku mencoba menjadi manusia mandiri. Aku belajar semua hal, aku ingin semua hal dapat aku lakukan sendiri, tidak mau bergantung maupun bersandar kepada orang lain. Secara gender dalam hal patriarki, mungkin dapat dikatakan bahwa aku lupa aku adalah seorang perempuan. Aku hanya merasa diriku adalah seorang manusia sama halnya seperti dirimu, entah kamu laki-laki ataupun perempuan. Aku menjalani hidupku dengan begitu kerasnya. Aku memaksa diriku untuk melakukan apapun itu yang secara logika sulit dilakukan walaupun dengan kondisi dan situasi yang ada.
Aku sadar bahwa kerasnya diriku ini adalah sebuah hal yang harus diredamkan. Karena kesadaranku tersebut, aku masih rutin berkonsultasi dengan Psikolog yang rajin dan tanggap dengan segala keluh kesahku. Setiap emosi yang kurasakan, dan amarah yang terjadi, aku rekam dalam memori dan aku ceritakan secara mendetail. Karena bentuk perilaku yang terimplementasi dariku adalah buah hasil dari peristiwa-peristiwa masa lalu yang kulalui di masa kecil, yang mungkin aku tidak bisa menuliskannya disini. Biarlah itu menjadi rahasia untukku sendiri.
Mungkin dalam berbagai bacaan menthal illness, berbagai artikel psikologi, berbagai postingan media sosial mengenai kesehatan mental, mengatakan bahwa kita harus aware terhadap para penderita depresi maupun gejala depresi, kita harus sigap untuk siap sedia menolong mereka dan menarik mereka dari lubang hitam tersebut. Namun perlu kalian ketahui bahwa, bagi kami (karena aku adalah penyintas), meminta pertolongan itu bukanlah hal yang mudah, meskipun ada orang yang secara langsung menghubungi, “kalau butuh pertolongan, tolong bicaralah padaku”.
Mungkin kalian pernah berpikir bahwa curhat kepada teman, bercerita kepada orang terdekat, adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi bagiku, hal itu amatlah sulit, dari kecil aku sudah terbiasa untuk mandiri, sudah terbiasa keras terhadap diri sendiri agar melakukan semuanya sendiri, tanpa harus bersandar kepada orang lain. Karena hal tersebut, sampai sekarangpun, detik ini pun, aku tidak pernah membayangkan untuk dapat menjalani hidup bersama orang lain, dalam hal ini adalah sebuah –pernikahan-.
Bagiku, menikah adalah sebuah angan-angan yang jauh. Aku tidak dapat mengerti, bagaimana bisa kedua orang yang tidak saling mengenal satu sama lain, bahkan tidak berhubungan darah sama sekali, dapat hidup bersama, benar-benar bersama, bahkan sampai tidur di dalam ruangan yang sama setiap hari. Bagiku itu adalah hal yang tidak normal, dan tidak dapat kupikirkan sama sekali. Mungkin kalian berpikir bahwa aku egosentris atau selfish, namun memang sampai sekarang aku masih belajar untuk meredamkan segala hal tersebut.
Kesulitan itu sangat berpengaruh dan berdampak dalam perilaku yang tercermin dalam diriku. Di mata orang lain, tentu saja terutama teman-temanku, aku adalah pribadi yang ceria, easy going, ekstrovert, careless, dan humoris. Namun setelah aku menyadari dan mulai mengenal diriku sedikit demi sedikit, sikap dan perilaku tersebut hadir dan muncul adalah berkat perasaan hampa yang kualami selama ini. Perasaan hampa yang terkadang menyerangku di saat aku sendiri. Perasaan hampa tersebutlah yang terus menerus membuatku takut, dan berakhir dengan munganggap betapa tidak pentingnya diriku di semesta yang luas ini.
Dalam kehidupan sehari-hari, aku sering mendengar teman-temanku berkata,
“aku pengen deh jadi kayak kamu, ga pedulian sama sekali, jadinya hidup terasa mudah dan santai”.
Perkataan yang sudah sering kudengar tersebut terkadang membuatku menertawakan diri sendiri. Aku merasa bahwa hal-hal seperti mau makan dimana, mengerjakan tugas kapan, mandi atau tidak, omongan orang lain terhadapku dan lainnya adalah sebuah hal kecil yang tidak perlu dipikirkan. Tentu saja alasannya adalah sudah begitu banyak hal-hal yang memenuhi otakku. Apabila otak diibaratkan dengan sebuah gelas, aku merasa bahwa gelasku sudah penuh, dan satu gelas tersebut aku simpan dalam lemari pendingin tanpa kuambil dan tanpa kuingat sekalipun bahwa aku pernah menaruhnya. Hal itulah yang membuatku takut. Takut bahwa suatu saat nanti, gelas tersebut akan muncul dengan sendirinya dan jatuh terpecah hingga menyebabkan luka bagi diriku sendiri ataupun orang lain. Penuhnya diriku itulah yang sedang kuusahakan untuk dikurangi. Dikeluarkan sedikit demi sedikit hingga aku benar-benar menjadi bijaksana, menjadi bermakna, dan menjadi tahu betapa pentingnya keberadaanku untuk diri sendiri. Dan sampai sekarang, aku masih terus berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya, menjadi manusia yang memiliki kehidupan yang penuh.
Dan aku mengajak setiap orang yang membaca ini untuk bertahan bersama-sama, dan berusaha bersama-sama. Paling tidak, mari berusaha sampai kita lupa bahwa kita sedang berusaha.