Singkat saja tulisan saya kali ini, saya akan sedikit bercerita tentang lingkar pertemanan saya beberapa bulan ini. Entah kenapa, saya masuk ke dalam lingkaran pertemanan yang dulu hanya sering dipergunjingkan diantara teman yang lain, dan saya tak menduga akan ikut masuk ke dalamnya dan bahkan addicted terhadapnya.
Saya memiliki sekelompok teman dengan beberapa frekuensi masing-masing. Satu grup isinya ghibah jodoh semuanya, satu grup isinya membahas makanan semuanya, satu grup isinya nyinyir tentang hal apapun yang terkadang dianggap tabu oleh sebagian orang (dan ini benar-benar real apapun, serta mewadahi segala keriuhan yang kualami), serta satu grup lagi yang isinya membahas tentang perdebatan batin yang kualami selama ini (dan ini juga salah satu yang benar-benar bebas dalam membahas hal-hal menyangkut kegalauan, meskipun tak sebebas yang pertama). Seperti kebanyakan wanita, grup pasti tak hanya satu.
Tetapi grup dan lingkar pertemanan baru yang kujajaki benar-benar mewadahi kegelisahan pikiranku selama ini, dan dengan gencar kuserap segala informasi dari grup tersebut, tanpa malu, tanpa iba, tanpa syarat. Just let me flow with that.
Obrolan ringan seperti “saiki pacarmu sopo? Isih selingkuh?” Sampai obrolan kompleks seperti “kamu masih islam kan?” Semuanya dipadu-padankan menjadi satu.
Ketika tiba-tiba muncul pertanyaan, “Oh Nabi Muhammad itu seorang Kristen ya? Menarik, agama abrahamik memang tidak seperti dulu, apalagi setelah muncul gencar-gencarnya pengkultusan”.
Semuanya terwadahi.
Saya ulangi, SEMUANYA TERWADAHI. BENAR-BENAR TERBUKA DAN TIDAK TABU.
Saya mensyukuri hal itu, karena obrolan yang masih tabu di masyarakat luas, terasa ringan di lingkaran pertemanan sendiri.
Mungkin untuk beberapa saat saya akan menemukan teman-teman yang baru, dengan frekuensi baru dan berbeda. Karena lingkar pertemanan tidak akan pernah berhenti dalam kenyamanan, harus diperluas, diperpanjang, dan dikembangkan. Karena segala jawaban terkadang melalui perantara bacotannya teman.