Selama 2 tahun kebelakang, aku kembali hidup menjauh dari mereka. Mereka ini adalah orangtuaku. Setelah aku telaah, sudah sejak Tahun 2013 aku mulai hidup terpisah, secara mandiri, karena harus berpindah tempat untuk kuliah. Aku masih ingat bahwa sangat sulit bagiku untuk memasak. Namun, hidup dan tinggal di kos mengharuskanku untuk memasak. Sampai-sampai, Ibuku heran karena tiba-tiba aku menjadi pandai memasak, meskipun untuk masakan-masakan sederhana dengan buku resep dari internet.
Aku menyadari bahwa kehidupanku yang sendiri, membuatku lebih mengenal diri sendiri. Perjalanan panjang ini membuatku berefleksi, “orang seperti apakah aku ini?”, dan tentu saja membuatku merasa sedikit: “kesepian!“
Tapi dalam tulisan ini, aku memutuskan untuk tidak akan membahas tentang rasa kesepian yang kualami. Akan kuceritakan sedikit tentang observasi dan bagaimana caraku memahami Ayahku sebagai gantinya. Dia adalah orang terpenting dalam hidupku.
Aku selalu berpikir, bahkan setiap harinya, saat aku selalu jauh darinya, “Bagaimana kalau beliau tidak ada?”. Aku tidak akan sanggup. Lalu aku mengubah pemikiranku menjadi, “Bagaimana kalau aku tidak ada?”, aku merasa bahwa pikiranku menjadi lebih tenang.
Aku tidak dapat memahami atau membayangkan, bagaimana rasa dan pikiran yang dialami dan dimiliki oleh Ayahku. Aku merasa Ayahku memiliki dan menanggung trauma yang berat dalam hidupnya. Ya, trauma yang sangat besar!
Aku membayangkan ketika masa kecilnya, bekerja, dan melihat orang seumurannya berangkat pergi ke sekolah. Ayahku… tak pernah bersekolah.
Ayahku hanya pernah belajar sekali, ketika sudah besar dan “dewasa”, belajar membaca, ujian paket A. Ijazahnya adalah Paket A. Beliau tidak pernah bersekolah dan bermain bersama anak-anak lainnya. Tentu saja karena harus bekerja.
Aku teringat ketika Ayahku bercerita, hidupnya dihabiskan menjadi pesuruh dari rumah satu ke rumah lainnya.
Ayahku adalah seorang pekerja keras. Tulang dan badannya keras…. tapi tidak dengan hatinya.
Pada saat Ayahku merasa sangat lapar, dan menangis… orangtuanya mengambil satu genggam tahi sapi… ya… tahi sapiii…
Ayahku diikat di tiang rumah yang terbuat dari kayu, dan disuapi dengan tahi sapi. Sampai Ayahku terdiam dan kenyang… dengan air mata..
Ayahku adalah pekerja keras. Terkadang dia berandai-andai ketika bercerita denganku, “kalau Ayah sekolah, Ayah sudah jadi pegawai!”. Ya! Pegawai, sebutan kami untuk ASN.
Aku ingin bercerita dan menekankan, bahwa tulang Ayahku sangat keras. Punggungnyapun keras. Pundaknya lebar, sampai aku selalu ingin bersandar padanya.
Dulu saat muda, beliau memikul barang dagangannya di pundak, mungkin beratnya sama seperti 3 karung beras. Berjalan kaki menjajakan dagangannya. Pernak-pernik dapur, baju, komporpun ada.
Tapi, pundak yang keras tersebut jadi berat sebelah. Pundak ayahku benar-benar tidak rata. Satunya lebih menonjol dari yang lainnya. Tonjolannya sering kupegang ketika kecil, karena lucu, dan kurasa Ayahku seperti Superman dengan tonjolan otot tersebut.
Aku baru sadar, bahwa pembentukan tonjolan itu diiringi rasa sakit yang tiap harinya ditimpa dengan balsam geliga atau counterpain.
Ah aku lupaa.. Ternyata tidak hanya pundaknya yang keras, kakinyapun sangat kuat. Ayahku memiliki dua kaki yang sangat kuat. Bisa berjalan berkilo-kilo meter jauhnya untuk menjajakan dagangannya. Tentu saja dengan memikul dagangan 3 karung beras tadi. Sangat kuat sampai aku tidak dapat membayangkannya. Mungkin barang paling berat yang kubawa adalah 1 ember air, yang kutimba dari sumur belakang sekolah, lalu kumasukkan ke dalam kamar mandi.
Ayahku berbeda. Dia benar-benar manusia super. Tapi… saking kuatnya kakinya, dia terkena saraf terjepit. Sampai sekarang, Ayahku menjadi sulit berjalan. Setiap hari tidur di tempat tidur. Kalau berjalan harus memakai tongkat. Katanya, Ayahku rindu dapat berlari dan main sepedaan. Ayahku rindu mencangkul sawahnya yang luas. Ayahku rindu mengejarku lari-larian karena tidak mau makan. Ayahku juga rindu saat menggendongku untuk mengambil mangga simbah kakung yang sudah masak.
Hari-hari Ayahku di rumah semakin sepi. Katanya karena anak-anaknya sudah pergi. Akupun pergi. Entah kenapa aku tidak mau tinggal di rumah. Padahal aku sangat menyayangi Ayahku.
Hari-hari itu mulai kurenungkan. Apakah Ayahku tidak pernah menangis ya?
Apakah Ayahku merasa kesepian setiap harinya?
Apa Ayahku tahu kalau aku kesepian juga?
Ah, Ayahku selalu tahu apa yang kupikirkan!
Tapi…
Ayahku tidak tahu bahwa hari-hari dia bekerja keras agar aku bisa sekolah, membuatku menjadi wanita yang tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa cinta pada laki-laki.
Yah, karena Ayahku jarang di rumah.
Ayahku pun adalah seorang perantau. Tiga bulan di perantauan, 2 minggu di rumah. Aku hanya berbicara melalui telepon atau melihat fotonya yang dikirim lewat pos.
Saat Ayahku mulai penuh di rumah, aku pergi. Aku pergi bekerja dan jadi perantau.
Ah iya, bakat perantauku sepertinya dari Ayahku.
Tapi, aku takut Ayahku kesepian.
Aku ingin dan selalu berdoa, agar Ayahku selalu bahagia setiap harinya, dan menjalani kehidupan dengan sangat bermakna.