Teriakan-teriakan kafir dan murtad, adalah hal umum bagi sebagian masyarakat kekinian. Disaat perempuan-perempuan muslim digiring untuk menjadi lebih islami, menjadi manusia yang syar’i dan hijrah demi menjadi lebih baik di hadapan Tuhan. Namun kampanye-kampanye hijrah terkadang membuatku berkerut dahi, entah kenapa hijrah itu hanyalah sebuah topeng untuk menutupi hal-hal yang dirasa tak bisa berhijrah dengan mudah. Sebagian orang, kampanye hijrah selalu dipamerkan lewat media-media sosial, yang mana tujuannya adalah sama, yaitu menggiring segelintir orang untuk ikut menjadi seperti dirinya. Terkadang itu menjadi hal yang baik, tetapi terkadang juga menjadi hal yang patut untuk dikendalikan, karena kampanye hijrah sering disisipi unsur paksaan hingga membuat malu apabila tidak diikuti.

Tentu saja, itu menjadi hal yang hanya ada di pikiranku, entah sama atau tidak dengan kalian, aku tidak tahu, karena setiap pandangan hidup memiliki desain-desain tersendiri.

Kurang lebih sudah satu tahun ini, aku memutuskan untuk menanggalkan jilbabku. Jilbab yang sudah kupakai sejak aku kelas 1 SMP, yang saat itu kupakai bukan untuk tujuan berhijrah menjadi lebih islami, tetapi untuk menghambat kulit berpigmentasi, atau istilahnya adalah “memutihkan kulit”. Saat itu aku berkulit hitam legam, sekarang sudah menjadi coklat, tidak sehitam dulu. Mungkin bagi kalian, niat awal berjilbabku adalah niat yang sangat buruk dan tidak sesuai dengan tuntunan agama. Tetapi, secara jujur kukatakan, memang itulah niat awalku.

Karena kebiasaan di sekolah memakai jilbab, akhirnya kuputuskan untuk memakai juga di luar sekolah. Aku mulai mengoleksi baju-baju panjang, aku mulai mengoleksi jilbab-jilbab bagus, dan mulai melipat-hilangkan baju-baju pendekku. Bahkan dirumahpun aku tetap memakai baju panjang. Dahulu saking malunya dilihat tetangga, aku keluar didepan rumah juga tetap mengenakan jilbab.

Teringat saat dulu, satu minggu aku mengikuti kelompok pengajian sampai 5x. Berbagai kelompok dan golongan aku ikuti untuk melihat berbagai perbedaan yang ada, dan tentu saja untuk mencari mana yang benar menurutku. Hingga aku sadari bahwa tidak ada perbedaan mendasar dari beberapa golongan besar yang sering muncul di TV itu, bahkan kesemuanya sama, mengajarkan untuk masuk surga.

Sampai SMA, aku mulai berani untuk terkadang keluar tanpa jilbab. Tetapi itu adalah hal yang lumrah pada tahun itu, disaat keluargaku, kedua orangtuaku dan kakak perempuanku, belum ada yang mengenakan jilbab. Saat kuingat lagi, jilbab saat itu hanyalah sebuah style, bukan merupakan pertanda diriku seorang yang memiliki agama bagus.

Sampai aku lulus SMA, aku berniat saat kuliah nanti, akan mengenakan jilbab yang lebih syar’i, karena aku masih menganggap bahwa jilbab adalah sebuah tanda bagi seorang muslimah. Dan ternyata saat kuliah, itupun terjadi. Kurang lebih selama beberapa minggu, aku mulai memakai rok panjang, baju gamis, dan jilbab yang dobel (supaya tidak semrawang kalau bahasaku). Saat itu, teman-teman memujiku bahwa aku terlihat cantik. Namun aku tak merasa cantik, tetapi merasa aku terlalu kosong dan hampa.

Mulailah selama kuliah, aku mengikuti pengajian lagi, tetapi tetap saja aku merasa kosong. Bahkan pikiran liarku merasa itu tidak benar, karena pengajaran yang kudapatkan sama saja ketika aku mengikuti pengajian dari SD hingga SMA. Tidak ada perbedaan, atau aku merasa tidak ada upgrading untuk itu.

Semakin tinggi semester, aku merasa semakin memikirkan tentang eksistensi diriku di dunia ini. Aku mulai mempertanyakan tentang Tuhan dan ketuhanan. Aku mulai mempertanyakan tentang hakikatku sebagai manusia. Karena otakku terus berpikir yang bahkan tidak ada ustadz di pengajianku yang mampu untuk menjawab, karena jawaban klise surga dan neraka mulai tidak masuk lagi. Aku merasa menjadi orang yang tak berguna.

Setelah beberapa waktu, akhirnya aku menemukan teman-teman yang nyaman untuk berdiskusi. Beberapa teman yang lebih dulu melalui tahap itu, dan jawaban-jawaban yang menenangkan mulai ada dalam diriku. Selain itu, berbagai pembelajaran video, buku, serta artikel-artikel mulai sering aku cari, mengenai hakikat ketuhanan, dan eksistensi. Aku mulai mengerti bahwa ternyata hidupku di dunia ini tak hanya sekedar surga dan neraka sepertu ceramah-ceramah pengajian yang kuikuti. Entah aku merasa beruntung karena memiliki pemikiran yang terus berjalan, atau merasa kurang beruntung karena hidupku mulai tidak sesederhana dulu, ketika yang kucari hanya masuk surga.

Saat itu, aku memustuskan untuk menanggalkan jilbabku, bukan karena aku menjadi murtad, tetapi memang sampai tahap ini diriku berada. Sampai titik dimana aku merasa jilbab itu bukan kewajibanku sebagai seorang muslim. Sampai titik dimana, aku akan hidup menjadi perempuan jawa yang menerapkan nilai-nilai jawa untuk belajar menjadi manusia biasa. Aku merasa lebih bisa mengekspresikan diriku sebagai manusia dengan penampilan yang sekarang.

Tentu saja, keputusan melepas jilbab adalah keputusan yang sangat memukul bagi keluargaku. Karena jilbab itu sudah bersamaku sejak aku SMP kelas 1. Dan sudah 5 tahun ini, ibuku dan kakak perempuanku memutuskan berjilbab. Meyakinkan mereka bahwa keputusanku ini adalah benar keputusanku, dan bukan karena aku pindah agama, adalah hal yang sulit. Tetapi seiring waktu, Ayah dan Ibuku mulai membiarkan aku. Bahkan saat aku bermain tanpa menggunakan jilbab, teman-temanku tidak menanyakan apapun. Mungkin karena mereka merasa tidak harus menanyakan atau memang mereka bertanya dibelakang.

Mungkin ini menjadi hal yang sulit untuk dimengerti, tetapi sampai pada tahap inilah aku sedang berada. Entah nanti bagaimana aku akan menjadi, tetapi pada tahap ini, aku hanya ingin menjadi diriku dan lebih mencintai diriku. Aku hanya ingin belajar menjadi manusia biasa, sebelum aku belajar mengenal langit. Dan memanusiakan manusia adalah tahap yang ingin kucapai saat ini.

Leave a comment