Sudah beberapa hari ini kegalauan melanda diriku. Entah karena efek PMS (Period Menstruasy Syndrom) atau memang problematika yang tak kunjung hilang. Orang bilang umur 20-an adalah waktu yang tepat untuk disebut mid-lyfe-crysis, memang bukan sebutan tak beralasan. Aku sudah mengalaminya satu tahun terakhir. Mulai dari lulus kuliah mau kerja atau S2, kalau kerja yang cocok apa, kalau S2 uangnya dari mana. Mulai dari situ, diputuskanlah untuk bekerja. Namun keputusan tersebut juga tak serta merta langsung berhasil, status jobless sudah mendarah daging beberapa bulan. Memang seperti kata orang, bahwa hidup itu adalah pilihan. Mulai dari pilihan yang tepat atau pilihan yang benar, tapi yang jelas, pilihan itu tidak pernah salah.
Nah, bukan itu sih yang akan dibahas, hanya sebagai prolog saja, tetapi terlalu asyik untuk dilanjutkan, karena hanya dengan menulis, problematika itu akan tertuangkan dengan baik.
Baiklah, kumulai lagi, beberapa hari ini pertanyaan lucu nan ringan memenuhi segenap pikiranku, “menulis atau tidak?”. Yah bagi kalian dengan hobby menulis, itu bukan pertanyaan yang pantas untuk diajukan, karena memang kalian akan melakukannya tanpa harus ditanyakan, bahkan tanpa harus dipikirkan. Tapi tidak denganku, menulis adalah hobi yang sudah lama kutinggalkan, sudah 14 tahun ini menulis bukan menjadi bagian dari diriku, bisa dikatakan, itu sudah bukan menjadi passion-ku. Aku tak bisa merangkai kata demi kata, meskipun sekujur otakku memikirkan konten-konten menarik yang pasti bagus untuk ditulis. Hasilnya selalu sama, hanya sebatas imajinasi dan wacana yang berkepanjangan, karena kemalasan menjadi faktor utama sekaligus faktor pembatas akan semua jerih payah otak tersebut.
Hari yang lalu, diriku mendapat tawaran pekerjaan yang sangat cocok denganku, namun terpaksa kutolak karena adanya pernikahan sahabat yang tak bisa kutinggalkan. Nah itu dia yang menjadi akar permasalahannya. Karena penolakan tersebut menjadi sebuah awal masa professional jobless yang kuterima (sengaja kutambahi kata –professional– biar cocok dengan umur yang tak lagi muda). Diriku memutar otak dan memeras otak berkali-kali, apa yang harus kulakukan untuk dapat menambah pundi-pundi rupiah agar dapat bertahan selama masa kelam yang akan datang. Berkali-kali kupikirkan, aku yang enggan untuk melamar pekerjaan tetap karena aku akan bosan pada akhirnya, ditambah tak ada keterampilan menonjol yang kupunya.
Berakhirlah, aku melirik hobi lamaku, yaitu menulis. Namun timbul permasalahan yang kuat lainnya mulai dari apa yang akan kutulis, bagaimana merangkai tulisan yang bagus, dan di mana aku bisa menempatkan tulisanku. Bahkan efek terlalu lama aku meninggalkannya berujung pada pertanyaan yang aku tak tahu harus mengawali dari mana.
Tak sampai disitu, beberapa kali kupikirkan konten-konten apa yang dapat kutulis dengan leluasa, menarik, dan dapat diterima, namun hasilnya tetap nihil. Berbagai bacaan kulihat untuk sekedar memutar ide, namun tetap saja kosong.
Hari berlalu-pun kulalui dengan kosong, tanpa progress yang jelas. Kubuka sedikit jendela ilmu yang kudapat, aku menyadari bahwa keadaan memaksaku untuk melakukan hal yang sulit untuk kulakukan. Keadaan memaksaku untuk menulis, memulai hobi lama yang tertinggal jauh dari diriku. Aku mulai berpikir, apa yang berbeda dari 14 tahun yang lalu, hingga aku bahkan tak bisa menulis satu kalimat-pun. Lalu aku menyadari bahwa aku takut untuk mengambil risiko, takut untuk memulai, dan ketulusanpun hilang dari diriku. Diriku 14 tahun yang lalu adalah anak-anak dengan imajinasi besar, percaya diri dengan segala kekonyolannya, dan berani mengambil risiko (meskipun aku yakin dahulu aku tidak mengenal kata risiko). Setelah kusadari itu, aku mulai menuliskan apa yang ada dalam pikiranku, entah baik atau buruk, karena aku yakin tidak seburuk dari menulis karena paksaan, dan ini salah satu hasil tulisan yang kudapatkan.
Baiklah, itu sedikit cerita yang kudapat, aku berencana untuk menuliskan pengalaman professional jobless-ku lain kali.