Menggambar adalah sebuah fenotipe. Setiap manusia hadir dengan kemampuan murni untuk menggambar. Bayangkan saja, anak kecil sangat suka mencoret kertas. Berikan mereka pensil dan kertas, niscaya kamu akan mendapatkan sebuah karya. Sebuah garis, titik, lingkaran, bahkan hal abstrak lainnya. Hal abstrak yang bermakna sesuatu bentuk, yang pasti hanya anak tersebut yang tahu.

Gambar terkorelasi dengan warna dan sistem warna. Warna adalah sesuatu hal yang menarik, terutama bagi anak-anak. Seorang bayi akan sangat tertarik dengan warna, khususnya warna merah, warna merah menjadi warna yang outstanding bagi mereka. Menjelang besar, mereka akan tertarik untuk mendeskripsikan sebuah benda. Mereka akan memilih warna sendiri untuk melukiskan benda tersebut. Menjelang waktu yang lebih luas, mereka akan menghabiskan kertas, demi sebuah karya murni milik mereka sendiri.

Menggambar dan mewarnai menjadi kegiatan yang amat sangat menyenangkan. Tak perlu dewasa untuk dapat melakukannya, seperti yang ku bilang bahwa menggambar adalah sebuah fenotipe, sebuah pengenalan dan imajinasi anak-anak untuk mendeskripsikan berbagai hal di sekeliling mereka. Bisa juga dikatakan sebuah persepsi murni anak-anak.

Waktu kecil, menggambar, melukis, adalah sesuatu hal yang mudah. Semua anak bisa melakukannya. Semakin dewasa, hal tersebut menjadi hal yang sulit. Bukan karena tidak bisa, toh mereka suka melakukannya saat anak-anak. Tetapi karena sebuah kebiasaan yang terbentuk dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka menjadi dewasa. Kedewasaan memicu diri untuk meninggalkan berbagai hal yang mengandung risiko. Kedewasaan menuntut untuk melakukan berbagai hal yang dirasa perlu untuk dilakukan, bukan melakukan hal abstrak yang nyaman. Seperti menggambar, orang dewasa cenderung untuk berpikir lama, demi menciptakan sebuah karya. Karya yang akan diminati banyak orang, karya yang akan membuatnya terkenal, karya yang akan mendatangkan pundi-pundi kemewahan. Sangat berbeda dengan pikiran murni anak-anak. Menggambar hanyalah sarana untuk menciptakan kebahagiaan mereka sendiri, tak ada risiko, tak ada beban berat yang dirasa, hanya sebuah sarana penyalur persepsi.

Menjadi seniman adalah sebuah pilihan. Pilihan untuk meneruskan bakat, atau meninggalkan demi cita-cita yang lain. Karena menjadi seniman adalah bakat setiap orang.

Leave a comment